• Sparta Enterprise
  • Lokasi:

    Srengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan

iSCSI vs NFS: Mana yang Lebih Baik untuk Storage Virtualisasi?

images images
  • Agustus 3, 2026
  • No Comments

iSCSI vs NFS: Mana yang Lebih Baik untuk Storage Virtualisasi?

iSCSI vs NFS memiliki cara kerja dan karakter pengelolaan yang berbeda. iSCSI lebih cocok ketika perusahaan membutuhkan block storage, kontrol file system dari sisi hypervisor, multipathing, dan integrasi SAN. Sementara itu, NFS lebih sesuai untuk perusahaan yang mengutamakan kemudahan konfigurasi, pengelolaan file yang fleksibel, serta shared storage yang praktis untuk beberapa host virtualisasi.

Namun, iSCSI tidak selalu lebih cepat daripada NFS. Performa keduanya sangat dipengaruhi oleh storage array, jenis disk, cache, kapasitas jaringan, jumlah jalur, konfigurasi switch, protokol, serta jumlah virtual machine yang mengakses data secara bersamaan.

Untuk Proxmox dan VMware, iSCSI maupun NFS sama-sama dapat digunakan sebagai shared storage. Pada Hyper-V cluster, pilihan yang lebih umum dan terdokumentasi untuk shared storage adalah block storage seperti iSCSI atau file based storage berbasis SMB 3.0. Karena itu, platform virtualisasi yang digunakan perlu menjadi salah satu dasar utama dalam memilih storage.

Mengapa Virtualisasi Membutuhkan Shared Storage?

Shared storage adalah penyimpanan yang dapat diakses oleh lebih dari satu host virtualisasi. Disk virtual machine tidak hanya tersimpan pada drive lokal satu server, tetapi ditempatkan pada storage yang dapat dijangkau oleh seluruh node dalam cluster.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki tiga host Proxmox. Jika disk VM hanya disimpan pada drive lokal host pertama, host kedua dan ketiga tidak dapat langsung menjalankan VM tersebut ketika host pertama mengalami kegagalan.

Dengan shared storage, seluruh host memiliki akses ke disk VM yang sama. Ketika salah satu server mengalami gangguan, VM dapat dijalankan kembali pada node lain selama konfigurasi cluster, jaringan, quorum, dan high availability telah disiapkan dengan benar.

Proxmox menjelaskan bahwa salah satu keuntungan utama shared storage adalah kemampuan melakukan live migration tanpa harus menyalin seluruh image disk VM ke host tujuan. Semua node sudah memiliki akses langsung ke image tersebut sehingga proses perpindahan dapat dilakukan lebih cepat.

Pada Hyper-V, shared storage diperlukan agar seluruh anggota cluster dapat mengakses konfigurasi serta virtual hard disk milik VM. Microsoft mendukung shared block storage seperti iSCSI dan Fibre Channel, serta file-based storage melalui SMB 3.0 untuk lingkungan Hyper-V cluster.

Shared storage dapat mendukung beberapa kebutuhan berikut:

  • Live migration.
  • High availability.
  • Failover antarnode.
  • Pengelolaan VM secara terpusat.
  • Pemisahan resource compute dan storage.
  • Penambahan host tanpa memindahkan seluruh data.
  • Maintenance host dengan gangguan minimal.

Meski demikian, shared storage juga dapat menjadi titik kritis. Jika seluruh VM menggunakan satu storage dan perangkat tersebut mengalami gangguan, beberapa host dapat kehilangan akses data secara bersamaan.

Karena itu, storage perlu memiliki RAID atau sistem redundansi lain, dual power supply, controller yang sesuai, jalur jaringan cadangan, monitoring, serta backup terpisah. Shared storage bukan pengganti backup dan tidak otomatis membuat infrastruktur bebas dari downtime.

Cara Kerja Penyimpanan iSCSI

iSCSI vs NFS

iSCSI merupakan singkatan dari Internet Small Computer Systems Interface. Teknologi ini membawa perintah SCSI melalui jaringan TCP/IP sehingga sebuah storage dapat terlihat oleh server seolah-olah berupa disk atau perangkat block yang terhubung langsung.

Dalam arsitektur iSCSI terdapat dua komponen utama:

  • iSCSI target, yaitu perangkat atau server yang menyediakan storage.
  • iSCSI initiator, yaitu host yang menghubungkan diri ke target.

Storage target akan menyediakan satu atau beberapa LUN atau Logical Unit Number. LUN tersebut kemudian diberikan kepada host yang memiliki izin akses.

Setelah LUN diterima, hypervisor dapat memformat dan mengelolanya menggunakan teknologi yang sesuai. VMware, misalnya, dapat menjadikan LUN iSCSI sebagai datastore VMFS. Pada Hyper-V cluster, LUN dapat digunakan sebagai Cluster Shared Volume. Proxmox dapat menggabungkan iSCSI dengan LVM untuk menyimpan disk virtual machine.

Baca Juga:  Strategi Backup 3-2-1: Cara Melindungi Data Perusahaan dari Kehilangan

Karena bekerja pada block level, iSCSI tidak secara langsung menyediakan struktur folder yang dapat digunakan seperti file share biasa. Host menerima kumpulan block dan menentukan sendiri bagaimana block tersebut diformat serta dikelola.

Alur sederhananya adalah:

  1. Storage menyediakan target iSCSI.
  2. Administrator membuat LUN.
  3. LUN diberikan kepada host tertentu menggunakan IQN, CHAP, masking, atau metode lain.
  4. Host menggunakan iSCSI initiator untuk terhubung.
  5. LUN terlihat sebagai block device.
  6. Hypervisor memformat atau menambahkan LUN sebagai storage VM.
  7. VM menyimpan virtual disk pada storage tersebut.

Pada VMware ESXi, setiap host perlu memiliki jaringan iSCSI, VMkernel adapter, iSCSI adapter, target portal, serta jalur menuju LUN yang sesuai. Broadcom juga menyarankan verifikasi redundansi path dan konsistensi MTU jika perusahaan menggunakan beberapa koneksi atau jumbo frame.

Untuk menjaga ketersediaan, iSCSI dapat menggunakan Multipath I/O atau MPIO. Beberapa jalur jaringan dapat menghubungkan host dengan storage sehingga koneksi masih tersedia ketika salah satu NIC, kabel, switch, atau port mengalami gangguan.

Microsoft merekomendasikan penggunaan network adapter khusus untuk trafik iSCSI pada failover cluster dan penggunaan beberapa jalur untuk mengurangi titik kegagalan.

Cara Kerja Penyimpanan NFS

iSCSI vs NFS

NFS merupakan singkatan dari Network File System. Berbeda dengan iSCSI yang memberikan akses block, NFS memberikan akses ke file system yang sudah dikelola oleh storage server.

Storage atau NAS menyediakan sebuah export. Host virtualisasi kemudian memasang export tersebut sebagai directory atau datastore. File virtual disk, konfigurasi VM, ISO, template, dan data lain dapat disimpan pada directory tersebut sesuai dukungan platform.

VMware menjelaskan bahwa client NFS bawaan pada ESXi menggunakan protokol NFS melalui TCP/IP untuk mengakses volume yang berada pada NAS server. vSphere mendukung NFS sebagai datastore untuk menyimpan serta menjalankan virtual machine.

Pada Proxmox, NFS backend menggunakan pendekatan directory storage. NFS dapat digunakan untuk menyimpan disk VM, container, file ISO, template, dan backup sesuai content type yang diaktifkan. Storage NFS juga secara otomatis dianggap sebagai shared storage.

Alur kerja NFS dapat disederhanakan menjadi:

  1. Storage server membuat file system.
  2. Administrator membuat NFS export.
  3. Hak akses diberikan kepada alamat IP atau jaringan host virtualisasi.
  4. Host melakukan mount terhadap export.
  5. NFS muncul sebagai directory atau datastore.
  6. Hypervisor membuat file disk virtual pada directory tersebut.
  7. Beberapa host dapat mengakses datastore yang sama.

Karena file system dikelola dari sisi NAS, administrator hypervisor tidak perlu membuat file system sendiri pada setiap host. Hal ini membuat konfigurasi awal NFS relatif sederhana, terutama pada lingkungan kecil dan menengah.

Pengelolaan kapasitas juga mudah dipahami. Administrator dapat melihat file virtual disk, ISO, dan backup sebagai file yang berada di dalam directory.

Namun, kesederhanaan tersebut tidak berarti NFS dapat dikonfigurasi tanpa perencanaan. Perusahaan tetap perlu mengatur izin akses, versi NFS, network redundancy, locking, cache, snapshot, dan koneksi ke NAS.

Jika alamat, DNS, atau identitas export tidak konsisten pada setiap host, platform dapat menganggap datastore yang sama sebagai resource berbeda. Karena itu, seluruh node harus menggunakan parameter mount dan identitas storage yang konsisten.

Perbandingan Block Storage dan File Storage

iSCSI vs NFS

Perbedaan utama iSCSI dan NFS terletak pada level aksesnya. iSCSI merupakan block storage, sedangkan NFS merupakan file storage.

Pada block storage, storage membagi kapasitas menjadi block mentah. Hypervisor menerima block tersebut dan menentukan file system atau struktur penyimpanannya.

Pada file storage, file system sudah dibuat serta dikelola oleh storage server. Hypervisor hanya mengakses file dan directory melalui jaringan.

Berikut perbandingannya:

Aspek iSCSI NFS
Jenis storage Block storage File storage
Resource yang diberikan LUN atau block device Export atau directory
File system Dikelola oleh host atau hypervisor Dikelola oleh NAS
Konfigurasi awal Relatif lebih kompleks Relatif lebih sederhana
Multipathing Didukung melalui MPIO Bergantung versi dan arsitektur NFS
Penyimpanan ISO/backup Membutuhkan lapisan tambahan pada platform tertentu Dapat disimpan sebagai file
Penggunaan umum SAN, VMFS, LVM, CSV NAS dan datastore berbasis file
Pengelolaan file Tidak terlihat langsung sebagai folder biasa File dapat dikelola dalam directory
Skalabilitas Bergantung LUN, target, dan storage array Bergantung NAS, export, dan file system
Baca Juga:  7 Server Paling Aman untuk Kelola Data HRIS

Proxmox membagi teknologi penyimpanan menjadi file-level dan block-level. File-level storage lebih fleksibel karena dapat menyimpan berbagai jenis konten. Block-level storage umumnya digunakan untuk menyimpan raw image dan membutuhkan lapisan tambahan jika ingin menyediakan fungsi lain.

Pada iSCSI, administrator perlu mengelola LUN, initiator, zoning atau masking, file system cluster, dan multipath. Kesalahan pemberian akses LUN kepada host yang tidak sesuai dapat berisiko merusak file system.

Pada NFS, kompleksitas lebih banyak berada pada konfigurasi export, permission, locking, network, dan kemampuan NAS. Pengelolaannya terasa lebih mudah, tetapi seluruh performa tetap bergantung pada kualitas file system serta storage server yang digunakan.

Performa, Kemudahan Pengelolaan, dan Skalabilitas

Tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa iSCSI selalu lebih cepat daripada NFS. Keduanya berjalan melalui jaringan dan dapat menggunakan Ethernet yang sama.

Performa lebih banyak dipengaruhi oleh:

  • Jenis SSD atau HDD.
  • Konfigurasi RAID.
  • Storage controller.
  • Cache.
  • Kecepatan NIC.
  • Jumlah jalur.
  • Latency jaringan.
  • Kemampuan switch.
  • Queue depth.
  • Ukuran block.
  • Pola random atau sequential I/O.
  • Jumlah VM aktif.
  • Implementasi protokol dari vendor.

iSCSI dapat memberikan kontrol lebih besar terhadap block device dan multipathing. Pilihan ini sering digunakan pada database, virtualisasi padat, dan lingkungan yang sudah memiliki SAN.

Namun, iSCSI membutuhkan konfigurasi lebih banyak. Administrator harus mengelola target, initiator, LUN, access control, MPIO, network isolation, dan file system datastore. VMware juga menyarankan jaringan khusus, VMkernel terpisah, konfigurasi path yang benar, dan MTU yang konsisten pada seluruh jalur iSCSI.

NFS lebih sederhana untuk dipasang dan dikelola. Satu export dapat ditambahkan pada beberapa host tanpa membuat file system terpisah dari sisi hypervisor. Penambahan kapasitas juga dapat dilakukan dari sisi NAS, bergantung pada kemampuan storage.

NFS sering cocok untuk perusahaan yang ingin menggunakan satu storage untuk VM, ISO, template, dan backup. Namun, menempatkan seluruh jenis data pada satu volume juga perlu dihindari jika menyebabkan kompetisi I/O antara VM produksi dan proses backup.

Dari sisi skalabilitas, iSCSI dan NFS sama-sama dapat dikembangkan. Perbedaannya terletak pada cara pengelolaannya.

iSCSI biasanya berkembang dengan menambah LUN, target, port, dan storage pool. NFS berkembang melalui penambahan export, kapasitas file system, node NAS, atau sistem scale-out.

Microsoft menjelaskan bahwa pada arsitektur SAN atau NAS, resource compute dan storage dapat dikembangkan secara terpisah. Perusahaan dapat menambah host ketika membutuhkan CPU serta RAM, atau menambah kapasitas storage tanpa menambah node compute.

Penggunaan untuk Proxmox, VMware, dan Hyper-V

1. Proxmox

iSCSI vs NFS

Proxmox mendukung NFS dan iSCSI sebagai shared storage. NFS lebih mudah digunakan karena langsung tersedia sebagai directory storage. Storage tersebut dapat menampung VM image, ISO, container template, dan backup.

iSCSI pada Proxmox lebih cocok jika perusahaan sudah mempunyai SAN atau ingin menggunakan block storage. Dalam implementasi umum, iSCSI dapat digabungkan dengan LVM agar disk VM dapat dibuat dan dikelola pada LUN. Dukungan snapshot dan clone perlu diperiksa berdasarkan plugin serta lapisan storage yang digunakan.

Untuk cluster kecil yang memakai NAS, NFS sering menjadi pilihan praktis. Untuk infrastruktur dengan SAN, multipath, dan kebutuhan block storage, iSCSI lebih relevan.

2. VMware vSphere

iSCSI vs NFS

VMware ESXi mendukung NFS datastore serta iSCSI datastore. NFS memberikan volume berbasis file yang langsung dipasang sebagai datastore. iSCSI memberikan LUN yang kemudian dapat diformat sebagai VMFS datastore.

NFS cocok jika perusahaan memiliki NAS yang telah dioptimalkan untuk VMware. iSCSI cocok jika perusahaan menggunakan SAN dan membutuhkan multipathing serta kontrol block storage.

Tidak ada pilihan universal. Ikuti matriks kompatibilitas, best practice, dan plugin dari vendor storage karena fitur snapshot, clone, replication, serta hardware offload dapat berbeda.

3. Microsoft Hyper-V

iSCSI vs NFS

Hyper-V mendukung arsitektur SAN dan NAS. Namun, untuk shared storage pada failover cluster, dokumentasi Microsoft secara khusus mengarahkan penggunaan shared block storage seperti iSCSI atau Fibre Channel, serta file-based storage melalui SMB 3.0.

Baca Juga:  Pilihan Storage Server Indonesia untuk Kebutuhan Enterprise

Dari dokumentasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa iSCSI lebih relevan daripada NFS untuk penyimpanan VM pada Hyper-V cluster. Perusahaan yang menginginkan file-based storage sebaiknya mengevaluasi SMB 3.0, bukan langsung menyamakan arsitektur Hyper-V dengan Proxmox atau VMware.

Rekomendasi Berdasarkan Ukuran Infrastruktur

Untuk lingkungan kecil dengan satu hingga dua host, NFS biasanya lebih mudah diimplementasikan. NAS dapat menyediakan export untuk VM, ISO, dan backup tanpa pengelolaan LUN yang kompleks.

Namun, backup sebaiknya tidak hanya disimpan pada volume yang sama dengan VM produksi. Jika NAS mengalami kerusakan, VM dan backup bisa hilang secara bersamaan.

Untuk perusahaan menengah dengan tiga hingga lima host, pilihannya bergantung pada hypervisor dan workload. NFS dapat digunakan jika tim membutuhkan pengelolaan sederhana, sedangkan iSCSI lebih cocok jika perusahaan telah memiliki SAN, memerlukan multipathing, atau menjalankan workload block-intensive.

Pada lingkungan besar, keputusan harus didasarkan pada benchmark, kompatibilitas vendor, kebutuhan IOPS, latency, high availability, jumlah host, dan rencana disaster recovery.

Berikut rekomendasi awalnya:

Kondisi Infrastruktur Pilihan yang Dapat Diprioritaskan
Proxmox kecil dengan NAS NFS
Proxmox dengan SAN enterprise iSCSI
VMware dengan NAS NFS
VMware dengan SAN dan multipath iSCSI
Hyper-V failover cluster iSCSI atau SMB 3.0
Banyak ISO, template, dan backup NFS
Membutuhkan block storage iSCSI
Tim IT terbatas NFS
Memerlukan kontrol LUN dan MPIO iSCSI
Database dan VM intensif Uji iSCSI dan NFS melalui benchmark

Jangan menentukan pilihan hanya dari spesifikasi kecepatan NIC. Lakukan pengujian menggunakan workload yang menyerupai kondisi produksi. Ukur random read, random write, latency, throughput, antrean I/O, dan performa saat salah satu jalur jaringan gagal.

Dalam perbandingan iSCSI vs NFS, NFS lebih mudah dikelola dan fleksibel untuk penyimpanan berbasis file. Pilihan ini cocok untuk Proxmox atau VMware dengan NAS serta lingkungan yang membutuhkan konfigurasi shared storage sederhana.

iSCSI lebih sesuai untuk perusahaan yang membutuhkan block storage, LUN, multipathing, kontrol file system dari hypervisor, atau integrasi dengan SAN. Untuk Hyper-V cluster, iSCSI juga lebih relevan dibandingkan NFS berdasarkan arsitektur shared storage yang didokumentasikan Microsoft.

Pilihan terbaik tetap bergantung pada hypervisor, workload, jaringan, storage array, kemampuan administrator, dan kebutuhan high availability. Uji konfigurasi sebelum memindahkan seluruh VM produksi karena hasil benchmark pada satu infrastruktur belum tentu berlaku pada infrastruktur lain.

Sebelum membeli NAS atau SAN, siapkan informasi mengenai jumlah host, jumlah VM, jenis hypervisor, kapasitas data, kebutuhan IOPS, kecepatan jaringan, dan target pertumbuhan. Tim Sparta Server Indonesia dapat membantu meninjau kebutuhan tersebut serta menyusun pilihan storage, server, switch, dan konfigurasi jaringan yang sesuai.

Topologi atau daftar perangkat dapat dikirim melalui:

Email: sales@spartaserverindonesia.com
WhatsApp: +62 878-2224-1000
Alamat kantor: Jl. Raya Lenteng Agung Barat Nomor 8, RT 02/RW 04, Srengseng Sawah,  Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Website: spartaserverindonesia.com

FAQ  iSCSI vs NFS

1. Apakah iSCSI selalu lebih cepat daripada NFS?

Tidak. Performa ditentukan oleh storage, disk, cache, jaringan, switch, protocol implementation, dan workload. Keduanya perlu diuji pada infrastruktur yang akan digunakan.

2. Apakah NFS bisa digunakan sebagai storage Proxmox?

Bisa. Proxmox mendukung NFS sebagai shared storage untuk disk VM, container, ISO, template, dan backup sesuai konfigurasi content type.

3. Apakah iSCSI membutuhkan jaringan khusus?

Untuk sistem produksi, trafik iSCSI sebaiknya dipisahkan menggunakan NIC, VLAN, atau jaringan khusus. Redundansi dapat ditambahkan melalui beberapa jalur dan MPIO.

4. Mana yang lebih mudah dikelola, iSCSI atau NFS?

NFS umumnya lebih mudah karena host cukup memasang export sebagai directory atau datastore. iSCSI membutuhkan pengelolaan target, initiator, LUN, file system, dan multipathing.

5. Apakah NFS cocok untuk Hyper-V cluster?

Untuk Hyper-V failover cluster, Microsoft mendokumentasikan shared block storage seperti iSCSI dan file-based storage melalui SMB 3.0. Karena itu, iSCSI atau SMB 3.0 lebih layak diprioritaskan daripada NFS untuk penyimpanan VM cluster.